Siapa tahu arti kata Geisha? Yah, saya sendiri juga tidak tahu. Pada awalnya saya mengira Geisha itu semacam wanita malam yang menjual dirinya, tahu kan? Tapi setelan membaca novel karya Arthur Golden ini, pandangan saya jadi berubah drastis.
Tugas Geisha yang utama adalah menghibur, dan hanya menghibur. Mereka tidak dapat disentuh, kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Tapi tentu saja mereka punya harga diri yang dijual mahal. Hidup mereka juga bukan hanya melulu tentang kehidupan malam, tapi mereka adalah wanita-wanita berbakat yang menguasai beragam seni tradisional Jepang, yang tidak begitu banyak ditekuni oleh orang-orang.
Selain sisi-sisi positif yang disebutkan di atas, ada sisi-sisi yang lain dari kehidupan mereka yang "gelap". Well, yah, kehidupan mereka saya rasa monoton. Begitu-begitu saja. Menghibur para pria di kedai teh sampai ajal menjelang. Tidak bisa menikmati dunia luar, terperangkap di situ, seperti bukan kehidupan aja.
Tapi Sayuri, tokoh utama, berhasil membuat hidupnya berwarna. Jalan hidupnya berliku-liku. Saya suka perkataan ibu Sayuri, "Dalam dirimu terkandung banyak air, dan dia bisa mengalir kemanapun ia mau. Jika ia terperangkap, air akan membuat alur yang baru, yang membawanya terus bergulir dalam kehidupan," atau kurang lebih seperti itu. Dan memang begitulan jalan hidup Sayuri, berliku-liku, penuh kejutan.
Misalnya, saya sebutkan urutan peristiwanya: Chiyo (Sayuri kecil) dijual oleh Ayahnya; Chiyo tinggal di rumah Geisha bernama Okiya Nitta; Chiyo berteman dengan anak yang dipanggil Labu; Chiyo bersekolah di sekolah Geisha; Chiyo bermusuhan dengan Hatsumomo; Chiyo ingin kabur, padahal itu adalah perbuatan terlarang; Chiyo benar-benar kabur lewat genteng; Jatuh, tertangkap; dipukuli; Divonis menjadi budak untuk selamanya....
Lalu: Chiyo bertemu dengan "Ketua" yang membuatnya bertekad untuk menjadi Geisha; Chiyo 15 tahun, dijadikan murid oleh Mameha, seorang Geisha paling erhormat; Chiyo menjadi Geisha pemula, namanya diganti menjadi Sayuri; berhasil bertemu dengan Ketua lagi, tapi tidak bisa mendekatinya; Sayuri malah dipaksa mendekati Nobu; Sayuri terus berjuang hingga menjadi Geisha sukses; Hatsumomo terus menterornya, hingga suatu saat Hatsumomo kalah; Sayuri hidup menjadi Geisha yang selama ini diimpikannya....
Masih ada lagiii: Perang Dunia II dimulai; bisnis Geisha tutup; Sayuri mengungsi ke pedalaman; bekerja sebagai pembuat kimono sampai perang usai; dan setrusnya... dan seterusnya..... (panjang......)
Komentar:
Terus terang, saya tidak suka endingnya. Diceritakan, Ketua selama ini juga mempunyai perasaan pada Sayuri, padahal Sayuri mati-matian berusaha menggapai Ketua. Masak penyelesaiannya gampang banget?? Terlalu kebetulan, ending yang terlalu bagus untuk kisah hidup yang runyam.
Bahasanya oke, saya sangat suka dengan perumpamaan-perumpamaan yang ada. Biasanya digunakan untuk medeskripsikan perasaan tokoh. Pemahaman kita jadi lebih dalam dan mengena. Kita dapat masuk ke kehisupan Sayuri dan merasakan apa yang dia rasakan, mengalami apa yang dialami.
Tokoh yang ada terlihat jelas karakternya, dan terasa hidup. Apalagi ditambah pendeskripsian yang jelas. Kita bisa menciptakan satu replika tokoh dalam benak kita sekaligus membaca, dan kita dapat membayangkan dengan jelas adegan dalam novel dengan bantuan tokoh khayalan itu. Asyik juga.
Gimana, tertarik?
Memoirs of a Geisha
ΞSelasa, 29 Januari 2008|→
∇
Categories :
Novel
Diposting oleh
punyakita
di
12.59


Tidak ada komentar:
Posting Komentar